Amerika Latin

RPKPS Amlat 3 Feb 2018

Perspektif Alternatif dalam Hubungan Internasional

Bahan Bacaan PAHI

Kontrak kuliah

Bahan

Happy Reading ;)

KOMPILASI NILAI KELAS FILSAFAT

KOMPILASI NILAI KELAS FILSAFAT

Middle East

Pertanyaan Kelas Tutorial

Filsafat Ilmu & Dasar Logika

RPKPS philosophy of science

Public Diplomacy

2015-Diplomasi Publik-RPKPS

Untuk Summary

 

MHI

MHI

 

Modul Praktikum MHI

Silabus MHI

GDL 2017

Panduan-Format-Penulisan-Laporan-Modul

Berikut silabus dan daftar baaan yang dapat diunduh

GDL

Kurikulum 2015

Desa Pinggiran, Pinggiran ASEAN Yusli Effendi

Caldwell

Meric

Timothy

Halal tourism

Mittelman

Bahan lainnya dapat dicari secara online

DKG 2017

Democracy

Berikut silabus dan daftar bacaan yang dapat diunduh:

DKG

SILABUS DKG

Koenig-Archibugi

Miller_08-1

 

Catatan beberapa bahan bacaan lain dapat ditelusuri secara online

Pentingnya Peran Perempuan Dalam Kegiatan Konservasi Laut

Terumbu Karang Raja Ampat (sumber: Bintang.com)

Terumbu Karang di Raja Ampat
(sumber: Bintang.com)

Tidak dapat dipungkiri salah satu indikator kesuksesan kegiatan konservasi laut adalah pelibatan masyarakat secara aktif. Kerjasama berbasis kesadaran antara masyarakat dengan pihak yang berkepentingan merupakan relasi paling dalam dibandingkan relasi transaksional proyek semata. Dalam mengawal kerjasama tersebut kaum perempuan menempati posisi yang strategis dan penting.

Mengapa konservasi laut penting bagi Indonesia yaitu karena karunia alam yang diberikan Tuhan kepada Nusantara dan negara-negara pada segitiga karang dunia serta banyaknya pemanfaatan laut oleh manusia. Tidak semua negara yang memiliki laut mempunyai terumbu karang apalagi dengan diversivitas yang tinggi. Terdapat sekitar 590 spesies terumbu karang (sebaran mayoritas di Indonesia bagian Timur) dan 4000 jenis ikan tropis, coba bandingkan dengan 67 spesies terumbu karang di Karibia (sumber). Tetapi dibalik kekayaan hutan laut itu tahun ke tahun juga terjadi penipisan sumber daya alam yang mayoritas terjadi karena tekanan manusia dan minoritas karena tekanan kimia (sumber).

Sedangkan mengapa perempuan menjadi penting dalam kegiatan dan program konservasi laut? hal inilah yang coba dijelaskan tulisan ini. Alasan awal dan teknis yang cukup mendasar yaitu perempuan menjadi representasi suami, kemampuan berinisiatif dan mempunyai power di berbagai ranah. Tulisan singkat ini tidak hendak menjelaskan secara komprehensif dari segi regulasi maupun berbagai kegiatan konservasi yang telah dilakukan di berbagai daerah, melainkan hanya menuliskan beberapa peran perempuan dalam kegiatan konservasi laut.

Perempuan menjadi representasi suami dan aktif dalam kegiatan dalam rembuk ide serta pengambilan keputusan. Narasumber dari desa Waterang Sikka NTT mengatakan “kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga kini semakin terasah kemampuannya dalam berargumen memberikan masukan dan kritikan terkait program. Presentase kehadiran dan keaktifan kaum perempuan semakin bertambah dikarenakan suami mereka berhalangan hadir dalam agenda pertemuan karena mencari nafkah (melaut).”

Hal senada diungkapkan narasumber dari Pulau Tomia, Wakatobi “kenaikan sampai 60% dalam rata-rata pertemuan yang dihadiri kaum perempuan semakin menunjukkan mereka patut diperhitungkan.” Metode one person one vote yang digunakan dalam pengambilan keputusan memberikan dinamisasi bagi kaum hawa dalam forum-forum untuk kemudian lebih berani menyuarakan pendapat.

Argumen lebih kuat lagi dikemukakan narasumber dari Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi “masyarakat berinisiasi sendiri tetap melanjutkan program walaupun program telah selesai. Hal ini bisa terlaksana karena telah tumbuh kesadaran masyarakat akan pentingnya penjagaan lingkungan hidup. Kaum perempuan mendorong hal tersebut terlaksana agar ecotourism bisa sukses. Kaum perempuan merupakan aktor penting dalam pengelolaan produk kuliner (misanya heloa sira, ikan parende, dan sebagainya) kepada wisatawan.”

Masalah mereka lebih lanjut ialah mendistribusikan produk mereka ke rantai nilai hilir di wilayah geografis yang lain. Dalam hal ini menuntut tidak hanya analisa rantai nilai dan pasar yang jitu tetapi konsistensi serta aktor yang akan mengawal praktik ekonomi alternatif ini berjalan berkesinambungan. Slogan terumbu karang sehat, ikan berlimpah, masyarakat sejahtera, keluarga bahagia bukan hal yang mustahil.

Selain sisi pengelolaan ekonomi mikro, perempuan juga mempunyai kekuatan di wilayah domestik/rumah tangga yang berhubungan dengan program konservasi laut. Narasumber dari desa Waterang – Sikka – NTT mengatakan “perempuan dapat mengenakan sanksi kepada suami mereka (nelayan) dan menghimbau untuk tidak mengambil ikan di zona inti konservasi (no take zone) atau menggunakan cara-cara yang dilarang aturan (illegal – destructive fishing). Apabila larangan tersebut dilanggar, para istri tidak akan memasak/mengelola hasil tangkapan tersebut.” Bagaimana cara mengetahuinya? tentu masyarakat kepulauan dan pesisir sudah mempunyai pengetahuan umum bahwa ikan yang didapat, misalnya, menggunakan bom ikan, tulang ikan tersebut tidak lagi utuh (tulang patah).

Pengalaman dari dua kabupaten tersebut memberikan gambaran pentingnya peran perempuan dalam program konservasi baik dalam pelibatan rembuk ide sampai tahapan implementasi. Kegiatan konservasi yang terus terlaksana walaupun program telah selesai merupakan indikator yang tinggi untuk mengukur seberapa kuat kesadaran, perilaku dan konsistensi konservasi oleh masyarakat. Tentu hal ini diharapkan daripada hanya mengandalkan kegiatan berbasis proyek yang mudah redup dikala proyek selesai.

Perempuan dalam hal tersebut menempati posisi yang penting baik secara langsung maupun tidak langsung. Emansipasi gender (perempuan) dalam praktik cerdas dan narasi keseharian masyarakat terkait konservasi laut di dua kabupaten tersebut tidak tersanggahkan lagi.

Makassar, 28 November 2014

Wawancara dilakukan pada bulan Juli 2013