Haul Gus Dur ke 7: Seni, Harmoni & Literasi

Haul Gus Dur ke 7:

Seni, Harmoni, & Literasi

Sore itu, tepatnya pukul 16:30 WIB, cuaca cukup bersahabat. Halaman depan Sasana Krida Budaya, Kel. Rampal Celaket RT/RW 05/06, Kec. Klojen Kota Malang, tampak ramai. Dua tenda lebar ± 6 meter yang siap meneduhi tamu, rangkaian susunan kursi, panggung permanen yang telah dihias, backdrop yang terpasang rapi dan berbagai alat musik tradisional memanjakan mata. Jajanan rakyat yang merupakan sumbangan warga juga disajikan secara gratis untuk semua pihak yang ingin “mengganjal perut”.

Lapangan ruang publik yang terletak di tengah perumahan itu dikelilingi oleh sekitar 13 rumah.

Tenda & Jajanan

Tenda & Jajanan

Seni Warga

Bunyi-bunyi karawitan menyambut tamu-tamu yang tampak mulai berdatangan, termasuk kami, tiga pria yang coba menikmati hari Sabtu (7/1/2017) menjelang malam.

Sembari kami mulai duduk dan mencoba beradaptasi, bebunyian tradisional (gamelan, gong) terus mengalun dari tangan-tangan handal sekitar 13 anak-anak usia SD – SMP, diantara mereka ada 1 orang yang bertindak sebagai sinden. Generasi penerus pelestari budaya tradisional ini tergabung dalam Komunitas AremaKer yang rutin berlatih di Sanggar Krida Budaya Rampal Celaket di bawah asuhan-inisiator seni Bapak Achmad Winarto. Mereka sekaligus tuan rumah acara itu.

Karawitan

Bebunyian tradisional itu, bagi saya, memberikan efek refreshing setelah dalam kurun setahun belakangan ini homogennisasi musik eletronik mendominasi dan menginvasi telinga, meskipun musik indie tetap ada dan bertahan sebagai balancer.

Terbesit pikiran, alangkah indahnya ketika dalam satu kecamatan (syukur-syukur satu kelurahan) mempunyai sanggar seni yang menjadi ruang berkesenian sekaligus berekspresi generasi pelanjut khususnya anak-anak sampai remaja. Mempunyai ruang publik untuk pementasan seni secara rutin (bulan, triwulan dsbnya), tentu cultural hot spot/space seperti itu keren!

Para pemusik karawitan ini tetap setia mengawal acara dari sore hari sampai malam hari sekitar pukul 20:30 WIB. Bedanya ialah di malam hari mereka berganti kostum dengan menampilkan pakaian tradisional lengkap dengan pernak perniknya.

Jam tangan menunjukkan pukul 16:45 WIB, acara selanjutnya di-isi oleh paduan suara GKI (Gereja Kristen Indonesia) Bromo dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua orang yang berada di dekat acara kemudian berdiri.

Paduan Suara

Paduan Suara

Lagu ini menjadi beda karena paduan suara GKI Bromo menyanyikan Lagu Indonesia Raya versi asli 3 stanza yang dibuat WR. Supratman pada tahun 1928, yang rekaman lagunya tersimpan di Belanda. Sontak para hadirin sekalian (sekalipun aparat keamanan) kesulitan dan kebingungan untuk mengikuti lirik pada stanza 2 dan 3, karena terbiasa versi satu stanza (versi deklarasi kemerdekaan RI).

Hadirin kemudian dapat bertemu menyanyi bersama kembali saat reff lagu tiba. Reff menghubungkan para hadirin.

Diselingi oleh MC, kemeriahan kesenian berlanjut. Tiba waktu Tari Saman dari Aceh untuk hadir di atas panggung sore itu. Para penari wanita yang rerata berusia belasan tahun itu berjumlah 14 orang, dan 2 orang pria pemusik (penyanyi) live. Para performer yang berasal dari sanggar tari Cendekia tampil atraktif dan bersemangat. Dengan gerakan yang lincah dan lemparan senyuman kepada penonton, mereka beraksi mempesona. Tampak hasil latihan yang sukses.

Tari Saman

Tari Saman

Seorang kawan kemudian menyapa dari belakang membawakan sebuah wadah kecil yang berisi kacang rebus, ubi rebus dan pisang goreng serta segelas kopi hitam. Sungguh suatu nikmat sore hari.

MC naik panggung lagi untuk mengantarkan penampilan seni berikutnya. Representasi Indonesia Tengah – Timur kini dipilih untuk dipentaskan, yaitu tari Bali, tari Margapati.

Gerakan lentik jemari nan kokoh, mimik, gerakan badan dan tatapan mata tajam dari penari seakan memberikan pesan komunikatif. Pesan tarian ini ialah kesalahan jalan akan membawa kepada kematian (sumber). Mungkin inilah alasan tari ini dipilih untuk mengingatkan bahwa keragaman Nusantara menuju kematian ketika terjadi banyak kesalahan jalan.

Penari, Mba Desi, juga berasal dari sanggar seni yang sama yaitu Cendekia.

Tari Margapati

Tari Margapati

Setelah rangkaian budaya tradisional ditampilkan, panggung kemudian diwarnai oleh pertunjukan musik modern yang dibawakan duo akustik. Desa – Kota Akustik yang terdiri dari dua pria ini sukses membawa penonton untuk bernyanyi bersama terutama pada lagu Happy Indonesia. Pesan toleransi kuat digaungkan sekuat keluaran bunyi gitar akustik pada speakers yang terpasang.

Acara kemudian break selama kurang lebih 1,5 jam untuk solat Maghrib (17:30 – 19:00).

———-

Malam mulai tiba, para pengunjung berbagai usia semakin banyak dan penjual-penjual juga menggelar dagangannya.

Pada pukul 19:05 WIB, hentakan pukulan tambur dan simbal tiba-tiba mengagetkan penonton. Tiruan dua ekor naga (merah dan kuning) yang masing-masing dibawakan 2 orang kemudian menunjukkan kepiawaiannya dihadapan penonton. Seni yang juga mengandalkan ketangkasan ini, beratraksi dan berinteraksi. Tampak anak-anak, remaja dan orang tua menikmati interaksi tersebut.

Bunyi petasan dan kembang api membuat kemeriahan malam minggu itu semakin menjadi-jadi. Para penampil Barongsai berasal dari Klenteng Eng An Kiong – Malang.

Barongsai

Barongsai

Mungkin ini salah satu wujud terima kasih penganut agama Kong Hu Chu kepada Presiden Gus Dur yang mengakui Kong Hu Chu sebagai salah satu agama resmi negara pada tahun 2000 melalui Keppres no.6, kemudian tahun baru Imlek dijadikan hari libur pada 2001, yang secara resmi menjadi hari libur nasional pada tahun 2002 masa Presiden Megawati melalui Keppres no.92.

Oh iya, tahun baru imlek 2568 tahun ini jatuh pada hari sabtu 28 Januari 2017, sayangnya jatuh pada hari Sabtu.

Acara berlanjut dengan MC yang semakin necis dengan pakaian adat.

Para pengisi panggung selanjutnya tampak beragam mulai dari penampilan seni, orasi budaya sampai pertunjukan wayang. Penampilan seni Jamaah Thoreqiyah, tari Sufi, Band Tuna Netra, tari topeng Sekar Sari dipentaskan diselingi oleh orasi budaya dan ditutup oleh pembacaaan doa lintas agama pada pukul 22:00 WIB. Secara keseluruhan tema, pengisi dan pesan acara merupakan kesatuan yang memancarkan harmonisasi. Suatu kegiatan culture of peace & non violence yang baik bagi pembelajaran generasi.

Meskipun terkadang sound system tidak berfungsi baik ketika penampilan berlangsung, show goes on. Penari Tari Topeng Sekar Sari, Mba Ananta Fajar, merupakan seorang dosen teknik mesin Universitas Islam Raden Rahmat – Malang. Mba Ananta berpesan bahwa melestarikan budaya agar kita tidak berdosa kepada leluhur. Dalam beberapa pemenggalan kalimat dalam bahasa Jawa saya terkadang hilang terjemahan, tapi pesan kuat itu yang saya ingat. Mba Ananta memancarkan simbol ketidakterikatan. Apapun profesinya tidak menghalangi seseorang untuk ambil bagian dari kegiatan berkesenian dan kebudayaan serta mengambil peran di masyarakat.

Motif ekonomi dibeberapa titik bukan menjadi alasan primer dalam bergerak. Termasuk pelestarian Tari tersebut. Hal ini juga dijelaskan Pian (Serpian Laefang) ketika ia menemani seorang teman yang melakukan penelitian tari topeng. “Para pelestari budaya tari itu yang mengeluarkan kocek demi mempertahankan kesinambungan budaya” kata Pian. Hal-hal ini memberikan contoh baik bertahannya gerakan ideasional dan budaya secara suka rela yang tidak harus melulu dilihat dari sudut ekonomi mainstream. 

Doa Lintas Agama

Doa Lintas Agama

Tari Sekar Sari

Tari Sekar Sari

Harmoni

Duo MC, Mba Nayla & Mas Adin, secara hangat menyapa seluruh orang semenjak acara dimulai. Duo MC (sepertinya menjadi SOP) terus menekankan tema acara Haul 7 Tahun Gus Dur yaitu “Merawat Kebhinekaan, Menyuarakan Perdamaian”.

Suatu tema, yang harus jujur, menjadi keprihatinan sebagian masyarakat semenjak dinamika politik elit pemilihan gubernur DKI Jakarta berlangsung akhir tahun lalu. Bagi sebagian yang lain serasa diliputi diskursus membela ajaran dengan marah terus menerus. Dinamika ini yang menjadikan media sosial tidak senyaman sebelumnya.

Haul Gus Dur ke 7 ini diselenggarakan oleh Komunitas GusDurian Malang. Sekertariat GusDurian secara nasional bertempat di Jogja dan Jakarta. Ibu Alissa Wahid direncanakan hadir dalam acara ini tetapi acara yang sama juga dilaksanakan di Ponpes Tebuireng – Jombang di waktu yang sama pula.

Haul sendiri berarti memperingati kematian tokoh masyarakat.

Untuk mencapai harmoni sosial, pengisi acara ini mengingatkan sembilan nilai utama Gus Dur yang dijadikan pembelajaran generasi yaitu ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan dan kearifan lokal.

Mengenai pemilihan lokasi haul, Pak Tanto (Kordinator GusDurian Jatim), sapaan akrab Pdt. Kristanto Budiprabowo, mengatakan komunitas GusDurian menghindari politisasi dan mengantisipasi pengerukan laba (misalnya melalui sponsor) oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Beberapa tawaran datang misalnya gedung organisasi kepemudaan dan sebagainya tetapi komunitas menghindari itu.

Dan memang dalam acara ini terlihat tidak ada pejabat pemerintah yang memberikan kata sambutan dan sebagainya. Orasi budaya diupayakan juga merangkai harmoni keterwakilan yaitu Mrs Charlotte, Bunsu Anton, Romo Yudho, Eyang Wiwik, Ki Ardhi dan Prof. Joko Saryono. Bahkan Prof. Joko Saryono (Guru Besar Sastra Indonesia UM) membacakan puisi yang panjang dan berisi pesan-pesan kehidupan.

Pak Tanto sendiri ketika berorasi budaya di atas panggung pengucapan kalimat-kalimatnya menggunakan nada yang tenang dan rendah, yang tidak membuat substansi orasinya melemah/berkurang.

Pian, mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S2 di FIA UB dan aktif di GusDurian Malang, mengatakan mengenai pendanaan acara ini dilakukan secara swadaya dan bergotong royong. Ada yang menyumbang sound system, konsumsi dan sebagainya.

Oh iya, Pian inilah yang sukarela menjemput saya di kosan, dengan motornya yang tampak kokoh di usia senja, untuk bersama-sama ke acara Haul Gus Dur ke 7.

Mas Ilmi Najib, kordinator GusDurian Malang, dalam sambutannya yang khas anak muda menghadapi mic yaitu menggelora, menekankan bahwa ciri khas Malang yakni kota yang harmonis dan damai.

Tampak dari pengunjung yang datang juga multi-etnis, agama dan dengan profesi yang beragam. Kami saja bertiga, dua diantaranya dari Sulawesi Selatan dan seorang dari Sulawesi Tenggara, datang duduk, belajar dan menyaksikan acara itu. Anak muda bertatto juga banyak datang diacara tersebut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, selain para pengisi acara dan pengunjung sangat plural, tema acara dan rangkaian acara berjalan lurus. Tampak para penyelenggara faham betul dengan konsep dan semangat yang diusung dan kemudian diterjemahkan kedalam acara.

Pengunjung

Pengunjung

Literasi

Dari berbagai komunitas yang hadir di acara tersebut, misalnya fotografer, video maker, wayang, sanggar seni, tari sufi dan sebagainya, ada komunitas yang menarik perhatian saya untuk berkenalan yaitu komunitas yang bergerak di bidang literasi.

Wawancara pertama saya dengan Mas Fachrul Alamsyah (40 tahun). Mas Fachrul merupakan inisiator penggerak Gubuk Baca, Taman Baca Lentera Negeri di Kec. Jabung. Semenjak tahun 2014, pria ini mencoba menggerakkan pemuda kampung untuk membantu gerakan literasi dengan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak, membacakan buku serta dongeng.

Pria yang nge-fans dengan Dik Doank ini, mengajak pemuda-pemuda bertato yang biasanya dipandang sinis di masyarakat (karena melakukan criminal, mabuk, judi, dsbnya) untuk bergabung dengannya dengan para sukarelawan yang lain. Perlahan tapi pasti pemuda-pemuda tersebut ikut berperan signifikan dalam gerakan literasi mas Fachrul.

Bahkan kata mas Fachrul ada beberapa pemuda yang prilakunya berubah menjadi sangat bersimpati sosial setelah aktif mendampingi anak-anak kecil tersebut (misalnya dalam mengajarkan baca tulis) dalam kegiatan literasi. Nampaknya afeksi mulai menjalar dalam tattoo.

Program pemberdayaan mas Fachrul bersegmentasi penggerakan pemuda menjadi lebih positif, membentuk mental serta karakter dan mengambil peran sosial. Sependek wawancara saya, mas Fachrul optimis terhadap jalan yang ditempuh ini.

Visi mas Fachrul yaitu ingin menjadikan Kec. Jabung sebagai Kecamatan Literasi. Sampai saat ini telah berdiri 5 gubuk baca yaitu GB. Lentera Negeri, GB gang tattoo, GB kampung Damar, GB Pustaka Putu Rejo, dan GB Pustaka Runding T. Pemberdayaan perempuan juga menjadi efek rembesan dari gerak aktif komunitas misalnya ibu-ibu yang membuat lampion di Kampung Damar.

Mas Fachrul mengatakan “survei yang menyatakan minat baca orang Indonesia itu kurang/lemah sebenarnya itu keliru. Karena dari pengelamannya melihat minat baca anak-anak di desa – dusun sangat tinggi namun fasilitas tidak ada (ketersediaan buku, ruang baca, dan sebagainya).”

“Terkadang ada pustaka desa mas, tetapi itukan jaraknya di pusat pemerintahan desa jauh dari dusun, anak-anak sulit kesana” kata bapak satu anak ini. Pustaka keliling lalu di-inisiatif untuk mensiasati masalah tersebut.

Hal serupa dikatakan oleh Mas Eko Cahyono. “Survei UNESCO itu keliru, minat baca kita tinggi kok, masalahnya daya dukungnya tidak ada”, kata mas Eko.

Mas Eko Cahyono sendiri merupakan aktivis literasi paling senior di Malang Raya yang telah merintis dalam jalan sunyi aktivitas literasi di akar rumput semenjak tahun 1998 (16 tahun lebih lamanya). Mas Eko menyediakan lebih dari 50.000 buku di perpustakaan publiknya di desa Sukopuro Kec. Jabung Kab. Malang. Pria ini juga sudah pernah diundang pada acara Kick Andy (lihat liputan mas Eko dan Perpustakaan Anak Bangsa disini).

Mas Eko menjadi responden saya yang kedua. Karena merupakan senior dan konsistensinya telah diuji oleh waktu, maka mas Eko sangat berkompetensi untuk memberikan pandangan maupun wejangan kepada komunitas penggerak literasi dimanapun berada.

Mas Eko memberikan pesan bahwa yang penting untuk dirubah adalah mindset tentang perpustakaan yang sangat kaku (tenang, kursi meja lengkap dsbnya). Perpustakaan itu cukup perlu dua hal yaitu nyaman dan terbuka.

Mas Eko menjelaskan, untuk Malang Raya sendiri telah hadir 120 perpustakaan publik/komunitas. Gerakan literasi dulu yang berjalan sendiri-sendiri sekarang telah membangun jaringan, misalnya untuk Malang Raya ada FKTBM (Forum Komunikasi Taman Baca Malang). FKTBM beranggotakan sekitar 220 orang yang terdiri dari 120 komunitas literasi. Dengan berjejaring memampukan komunitas lebih sustainable dengan saling membantu misalnya ada yang kekurangan buku, pemateri untuk workshop penulisan, produk daur ulang dan sebagainya, tentunya juga sebagai ruang dialog.

Secara nasional sebenarnya ada jaringan nasional bernama Forum TBM (Taman Baca Masyarakat) dibawah naungan Kemendikbud. “Namun yang berurusan dengan pemerintah sangat birokratis, ribet dan tidak fleksibel” kata mas Eko. Sementara inisiatif komunitas literasi begitu cepat berjalan dengan berbagai eksperimentasi.

Beberapa kalimat yang cukup dalam dikeluarkan Mas Eko meskipun konsentrasinya terpecah menjadi dua yaitu memperhatikan acara di panggung dan meladeni pertanyaan saya, misalnya mas Eko berucap “hidup normal itu membosankan, mari membuat mimpi sesuai dengan yang kita inginkan.”

Tentu kalimat itu mempunyai cantolannya di realitas mengenai jalan dan piilihan hidup yang beliau ambil ditengah banyaknya pilihan yang tersedia dan tekanan-tekanan. Bukan sekedar kalimat imajiner hasil dari perenungan intelektual semata.

Mas Eko kemudian berbagi pesan bagi teman-teman, sahabat-sahabat yang menggerakkan literasi dimanapun berada yaitu “orang seperti kita ini adalah orang-orang yang mencari masalah, masalah dengan mengajak orang banyak. Jangan masuk ke dunia literasi jika tidak siap untuk mendapat masalah”. Mas Eko mengucapkan kalimat itu dengan rendah hati tidak dalam nada hirarki menggurui.

Acara yang mendekati akhir dengan konstentrasi mas Eko yang sepenuhnya kali ini diarahkan ke panggung, wawancara singkat tampaknya harus saya cukupkan.

———

Pukul 22:30 WIB, tubuh sudah meminta haknya untuk beristirahat. Pergelaran wayang tak sanggup lagi saya ikuti apalagi siang sebelumnya segenap teman di FISIP mengadakan futsal selama 2 jam yang menguras stamina.

Sebagai seorang pendatang yang belum genap setahun di Kota ini, saya senang bisa melihat kearifan warga Malang dan bertemu serta belajar dari orang-orang hebat pada bidangnya masing-masing yang konsisten bekerja secara volunteer di akar rumput serta berusaha memenangkan pertempuran dalam medan politik keseharian. Progress masyarakat tentunya mendapatkan harapan yang baik dalam narasi mereka.

Malam minggu berkualitas tiga pria lajang dicukupkan sampai disini. Saatnya saya kembali ke kamar kos dan bersiap menyongsong minggu pagi yang penuh cucian.

Progress is not a neutral term. It moves toward specific ends, and these ends are defined by the possibilities of ameliorating the human condition” – Herbert Marcuse, One Dimensional Man (1964, 2007: 18)

M.Z

Sigura-gura Barat Malang 8/1/2017

#HaulGusDur7  #Malang

(Mohon maaf jika penulisan nama tidak sesuai)

Comments are closed.